EIRIKA
Terlihat sepasang manusia tampak belakang sedang
berjalan di ikuti oleh Erika kecil. “Mereka adalah suami istri” sehingga dengan
refleks dia berteriak “Mama !, Papa !”. Akan tetapi tidak ada yang mendengar
suara Eirika kecil, atau mungkin saja itu hanya dalam hati entahlah.
Dengan nafas yang kurang beraturan, tetap Eirika kecil
memacu langkah kakinya untuk tetap rapat mengikuti mereka berdua. “Hanya ingin
tahu wah mereka berdua” itulah tujuan saat ini Eirika kecil. Tanpa memedulikan
keramaian kota, Eirika kecil terus berlari untuk mengejar mereka berdua.
Akhirnya mereka berdua terlihat sampai disebuah toko
boneka, salah satu dari mereka berkata “sepertinya anak kita akan suka dengan
boneka ini” kalima tini terdengar oleh Eirika kecil, dan terlintas dibenaknya
bahwa itu adalah boneka yang sangat di idam-idamkannya.
Semakin lama Eirika semakin jauh dari mereka. Rasa
lelah semakin menjalar dikaki Eirika kecil, namun ia tetap menerobos tidak
perduli diantara kaki-kaki manusia yang sedang berlalu-lalang. “Tunggu !,
Tunggu !” itulah kata-kata yang sudah sulit untuk diucapkan dalam kondisi
berlari. Namun semakin lama mereka semakin menghilang dari pandangan tertutupi
dengan manusia lainnya, dan akhirnya dia terjatuh dan tangannya terinjak tapi
dia tidak perduli. Dia hanya ingin bangkit dan mengejar namun tidak ada lagi
tenaga tersisa, dan mereka sudah menghilang dari pandangan. Hilang total. Itu
hanyalah cita-citanya selama 9 tahun.
*******
"Hoi Eri, sampai
kapan mau tidur ?" Samar-samar Aku mendengar suara.
"Hoamzz... ini jam
berapa sih ? Eh ! apaan sih !" Aku menanggapi. Aku mengenali suara itu,
Marshal atau biasa dipanggil Al.
"Oi bangun oi, sepertinya
kamu di cari mama tuh !" Lanjutnya.
Aku bangun dan bergegas untuk pergi kedapur. Sambil
berjalan Aku menata rapi kembali rambutku dan membatin, "mengapa mama memanggil
malam-malam begini ?". Ya dia yang sekarang Aku panggil mama. Tidak pernah
sekilaspun Aku melihat wajah Papa dan Mama kandungku. Aku yang mendapatkan
diriku telah terlantar dijalanan, dan Aku tidak bisa membayangkan ketika kecil
dulu siapa yang mengurusku hingga Aku bertemu dengan anak sebayaku, anak
laki-laki yang sekarang Aku panggil Al.
Seingatku waktu itu Aku dalam kondisi demam yang
tinggi, ditengah jalan pula. Aku tidak tahu lagi akan berbuat apa, dan Al
langsung berteriak kepadaku lalu menolongku. Aku sangat berterima kasih
kepadanya terlebih lagi atas apa yang sekarang Aku punya. KELUARGA.
Setelah sampai didapur, dapur tradisional yang
beratapkan langit, tungkunya terbuat dari susunan batu bata, dan berbahan bakar
kayu bekas, kardus-kardus, dan lain sebagainya yang setiap hari di cari oleh
Marshal dan Aku. Mama sering berkata kepada kami berdua, "manfaatkanlah
apa yang ada" dan memang dalam kondisi seperti ini, kata-kata itu perlu
diperhitungkan.
Sesampai disana terlihat didepan tungku mama sedang
memasak makanan untuk dijual nanti. Sambil mendekat Aku bersuara rendah membuka
percakapan.
"Mama memanggil
saya ?". Tanyaku masih dengan kantuk.
"Sepertinya tidak,
tugasmu kan bukan sekarang. Sana istirahatlah yang cukup". Jawab Mama
"Iya Ma,". Balasku
sambil berlalu
Aku bingung untuk sejenak, dan pikiranku langsung
tertuju kepada Al. Sungguh brengsek dia. Hahaha dengan begitu polosnya Aku
tertipu, Padahal ini sudah sering terjadi. Brengsek Kamu Al.
Setelah meminta izin, Aku kembali kekamar yang sebenarnya
bisa dibilang ruang tamu juga ruang makan. Memang rumah yang hanya memiliki
luas sebesar dua mobil Angkutan kota, beratap genteng yang sudah berumur,
berdinding terpal yang banyak bekas tambalan, dan berlantai kardus beserta
tikar bekas yang dilapis-lapis ini adalah harta yang sangat berharga bagi Mama,
dan Ia sangat bersyukur untuk itu. Dia sering mengingatkan untuk tidak mencela
apa yang mereka punya kepada kami.
"Sialan Kamu Al
!". Teriakku marah sambil menendang kakinya yang sudah lelap tertidur.
Aku menuggu untuk beberapa menit, tapi tidak ada
jawaban dari anak lelaki yang konyol dan senang berlari ini. Rambutnya sering
berantakan, matanya seperti mama, coklat dan tajam kalau menatap. Tidak ada
yang begitu spesial dari dia, menurutku. Tapi disaat-saat tertentu dia terlihat
berbeda dari yang dikira. Perbedaannya seperti berlian yang belum digosok dan
sesudah digosok.
Sudahlah, Aku merebahkan tubuhku untuk tidur. Istirahat
yang Aku butuhkan. Kita biasanya tidur bertempelan punggung karena ini adalah
cara terbaik untuk tetap memertahankan suhu tubuh dari dinginnya setiap malam
di Gang ini. Hal ini juga yang diajarkan oleh Mama ketika masih kanak-kanak
dulu, dan sampai sekarang. Mama selalu berkata "mendekatlah ke mama nak",
dan kitapun tidur bertiga.
Malam yang selalu dingin di Gang "Suram"
Sukamto, tanpa bintang dilangit. Tapi cahaya harapan akan selalu terpancar
kepada orang-orang yang penuh dengan keinginan-keinginan dan bergerak untuk
mencapainya. Tidak terbatas untuk anak jalanan sepertiku, eh itu dulu sekarang
aku punya keluarga dan Aku mulai menutup mataku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar