Senin, 09 Januari 2012

CERITA PENDEK


EIRIKA
Terlihat sepasang manusia tampak belakang sedang berjalan di ikuti oleh Erika kecil. “Mereka adalah suami istri” sehingga dengan refleks dia berteriak “Mama !, Papa !”. Akan tetapi tidak ada yang mendengar suara Eirika kecil, atau mungkin saja itu hanya dalam hati entahlah.
Dengan nafas yang kurang beraturan, tetap Eirika kecil memacu langkah kakinya untuk tetap rapat mengikuti mereka berdua. “Hanya ingin tahu wah mereka berdua” itulah tujuan saat ini Eirika kecil. Tanpa memedulikan keramaian kota, Eirika kecil terus berlari untuk mengejar mereka berdua.
Akhirnya mereka berdua terlihat sampai disebuah toko boneka, salah satu dari mereka berkata “sepertinya anak kita akan suka dengan boneka ini” kalima tini terdengar oleh Eirika kecil, dan terlintas dibenaknya bahwa itu adalah boneka yang sangat di idam-idamkannya.
Semakin lama Eirika semakin jauh dari mereka. Rasa lelah semakin menjalar dikaki Eirika kecil, namun ia tetap menerobos tidak perduli diantara kaki-kaki manusia yang sedang berlalu-lalang. “Tunggu !, Tunggu !” itulah kata-kata yang sudah sulit untuk diucapkan dalam kondisi berlari. Namun semakin lama mereka semakin menghilang dari pandangan tertutupi dengan manusia lainnya, dan akhirnya dia terjatuh dan tangannya terinjak tapi dia tidak perduli. Dia hanya ingin bangkit dan mengejar namun tidak ada lagi tenaga tersisa, dan mereka sudah menghilang dari pandangan. Hilang total. Itu hanyalah cita-citanya selama 9 tahun.
*******

"Hoi Eri, sampai kapan mau tidur ?" Samar-samar Aku mendengar suara.
"Hoamzz... ini jam berapa sih ? Eh ! apaan sih !" Aku menanggapi. Aku mengenali suara itu, Marshal atau biasa dipanggil Al.
"Oi bangun oi, sepertinya kamu di cari mama tuh !" Lanjutnya.
Aku bangun dan bergegas untuk pergi kedapur. Sambil berjalan Aku menata rapi kembali rambutku dan membatin, "mengapa mama memanggil malam-malam begini ?". Ya dia yang sekarang Aku panggil mama. Tidak pernah sekilaspun Aku melihat wajah Papa dan Mama kandungku. Aku yang mendapatkan diriku telah terlantar dijalanan, dan Aku tidak bisa membayangkan ketika kecil dulu siapa yang mengurusku hingga Aku bertemu dengan anak sebayaku, anak laki-laki yang sekarang Aku panggil Al.
Seingatku waktu itu Aku dalam kondisi demam yang tinggi, ditengah jalan pula. Aku tidak tahu lagi akan berbuat apa, dan Al langsung berteriak kepadaku lalu menolongku. Aku sangat berterima kasih kepadanya terlebih lagi atas apa yang sekarang Aku punya. KELUARGA.
Setelah sampai didapur, dapur tradisional yang beratapkan langit, tungkunya terbuat dari susunan batu bata, dan berbahan bakar kayu bekas, kardus-kardus, dan lain sebagainya yang setiap hari di cari oleh Marshal dan Aku. Mama sering berkata kepada kami berdua, "manfaatkanlah apa yang ada" dan memang dalam kondisi seperti ini, kata-kata itu perlu diperhitungkan.
Sesampai disana terlihat didepan tungku mama sedang memasak makanan untuk dijual nanti. Sambil mendekat Aku bersuara rendah membuka percakapan.
"Mama memanggil saya ?". Tanyaku masih dengan kantuk.
"Sepertinya tidak, tugasmu kan bukan sekarang. Sana istirahatlah yang cukup". Jawab Mama
"Iya Ma,". Balasku sambil berlalu
Aku bingung untuk sejenak, dan pikiranku langsung tertuju kepada Al. Sungguh brengsek dia. Hahaha dengan begitu polosnya Aku tertipu, Padahal ini sudah sering terjadi. Brengsek Kamu Al.
Setelah meminta izin, Aku kembali kekamar yang sebenarnya bisa dibilang ruang tamu juga ruang makan. Memang rumah yang hanya memiliki luas sebesar dua mobil Angkutan kota, beratap genteng yang sudah berumur, berdinding terpal yang banyak bekas tambalan, dan berlantai kardus beserta tikar bekas yang dilapis-lapis ini adalah harta yang sangat berharga bagi Mama, dan Ia sangat bersyukur untuk itu. Dia sering mengingatkan untuk tidak mencela apa yang mereka punya kepada kami.
"Sialan Kamu Al !". Teriakku marah sambil menendang kakinya yang sudah lelap tertidur.
Aku menuggu untuk beberapa menit, tapi tidak ada jawaban dari anak lelaki yang konyol dan senang berlari ini. Rambutnya sering berantakan, matanya seperti mama, coklat dan tajam kalau menatap. Tidak ada yang begitu spesial dari dia, menurutku. Tapi disaat-saat tertentu dia terlihat berbeda dari yang dikira. Perbedaannya seperti berlian yang belum digosok dan sesudah digosok.
Sudahlah, Aku merebahkan tubuhku untuk tidur. Istirahat yang Aku butuhkan. Kita biasanya tidur bertempelan punggung karena ini adalah cara terbaik untuk tetap memertahankan suhu tubuh dari dinginnya setiap malam di Gang ini. Hal ini juga yang diajarkan oleh Mama ketika masih kanak-kanak dulu, dan sampai sekarang. Mama selalu berkata "mendekatlah ke mama nak", dan kitapun tidur bertiga.
Malam yang selalu dingin di Gang "Suram" Sukamto, tanpa bintang dilangit. Tapi cahaya harapan akan selalu terpancar kepada orang-orang yang penuh dengan keinginan-keinginan dan bergerak untuk mencapainya. Tidak terbatas untuk anak jalanan sepertiku, eh itu dulu sekarang aku punya keluarga dan Aku mulai menutup mataku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar