Bercerita tentang sejarah berarti kita sedang membicarakan suatu cerita kenangan yang tergores dalam kamus kehidupan yang biasanya adalah suatu momen yang sangat berharga, momen yang sangat berarti, momen yang begitu mengiris. Terkadang sejarah di jadikan sebuah rujukan, terkadang sebagai sebuah situs, terkadang sebagai sebuah cacian, dan terkadang sebagai awal dari sebuah kehancuran. Kalau kita mengingat tentang bebrapa kejadian di belakang, seperti kerusuhan yang terjadi di beberapa tempat. Secara tidak sengaja kita telah menggoreskan awal kehancuran pada riwayat hidup bangsa. Akan terlalu naïf untuk membohongi generasi muda yang cenderung bertingkat-tingkat lebih modern dari pada generasi sebelumnya. Teknologi zaman sekarang telah membeberkan semua fakta maupun roman bibir perempuan yang di kemas dalam media cetak dan media elektronik.
Tawuran termasuk dalam jenis kerusuhan. Terdapat berbagai macam tawuran, di antaranya tawuran antar suporter bola. Terutama di Indonesia, acap kali terjadi dan mungkin telah menjadi pola hidup dan telah membudaya. Telah menjadi momok sekaligus sejarah hitam kelam di wajah pesepak-bolaan di Indonesia. Bermodalkan rasa nasionalisme yang tinggi, mungkin tepatnya ‘fanatisme’, sehingga bisa menyamarkan rasa benci yang begitu mendalam terhadap rival seperjuangan. Tentunya perlahan sedang mencetak tentara-tentara untuk perang fisik antar sesama. Inilah sebab-sebab konflik destruktif. Ini semua karena penumpulan perasaan, dan dapat disimpulkan juga bahwa mereka kurang mengtahui tentang seni, atau dengan kata lain ‘Buta Seni’. Hal ini berdampak pada pengambilan sebuah keputusan, yaitu bertindak tanpa pertimbangan kemanusiaan. Sehingga terkesan ‘menyeruduk seperti banteng’.
Ada pepatah yang berkata minyak sebanyak lautan tidak akan menyala tanpa secercah percikan api. Begitu juga dengan bala tentara lapangan bola yang dapat di sebut ‘minyak’ tidak akan bereaksi kalau tidak ada ‘api’ pemicu kerusuhan. Para suporter bola di Indonesia sangat terkesan “burning head”, artinya semua keputusan di ambil tanpa menggunakan kepala dingin. Perspektif dalam hal ini juga sangat penting sebab berkenaan dengan sudut pandang mereka. Hal ini dapat terjadi karena paradigma berpikir yang di bangun pada zaman sekarang tidak lagi seperti pada zaman Presiden Soekarno yang menitik-beratkan pada moral. Sehingga terjadi krisis moral, yang nantinya akan merambat pada kemiskinan hati. Kemiskinan hati inilah yang menjadi salah satu kenapa perang (baca 'tawuran') ini sering terjadi.
Setiap cerita yang melegenda pastilah di kenal oleh khalayak ramai, semua mulut pasti pernah mengucapkan minimal satu skenario dari cerita itu. Akan tetapi , lidah itu selalu bergelombang menyebabkan setiap penggalan skenario tersebut akan terbumbuhi dengan begitu ciamiknya sehingga skenario yang sampai pada generasi penerus cerita tersebut secara perlahan akan mengalami penambahan, dan pengurangan. Jadi dapat di simpulkan bahwa genersi terdahulu telah menanam banyak kebohongan kepada generasi penerus yang naninya akan siap untuk di panen secara besar-besaran. Tidak terkecuali juga terhadap cerita tentang persepak-bolaan di Indonesia. Kesuksesan di masa silam yang terlalu berlebihan untuk di banggakan sehingga lama-kelamaan mengalami sebuah cerita yang talah terbumbuhi dan menjadi cerita dusta, tepatnya semi-dusta.
Tidak dapat di pungkiri juga bahwa ternyata bangsa Indonesia adalah bangsa yang dulunya berpaham kemiliteran dan perjuangan. Hal ini dapat terlihat dari sejarah bangsa Indonesia ketika menuntut kemerekaannya, sehingga melakukan suatu perjuangan yang sangat berarti, “merebut kota perjuangan”, dan cerita itu tetap membara dan menguap sampai sekarang. Artinya, yang tertanam pada jiwa rakyat Indonesia adalah jiwa-jiwa kemiliteran yang cenderung “keras”. Namun, hal yang mungkin di sepelehkan oleh orang-orang awam tentang cerita tersebut adalah bahwa dahulu presiden Soekarno juga menggunakan strategi “parley” atau “perundingan”, hal ini secara tidak langsung menjurus ke politik. Faktor-faktor diatas juga dapat menjawab “mengapa banyak terjadi tawuran di Negara ini?”.
Beranjak dari topik sejarah, sekarang marilah kita membahas tentang bagaimana sebuah sejarah terbentuk. Dewasa ini, pelaku sejarah berarti mereka yang sengaja atau tidak sengaja menggoreskan tinta dalam cerita bangsa ini. Seperti sebelumnya, pastilah dalam suatu perkara ada yang baik dan buruk. Sama halnya dengan suatu sejarah, di setiap cerita pastilah ada suatu skenario yang baik, dan ada yang jelek. Baik dan buruknya sutau sejarah akan selalu tengiang di telinga generasi penerus. Kita ambil contoh saja, seperti cerita sejarah bangsa tentang ”merebut kota perjuangan”. Di ceritakan bagaimana bangsa ini bergelut dengan bangsa kompeni dengan seluruh jiwa raga (nasionalisme) yang katanya para tetua hal tersebut perlu dan sangat di anjurkan untuk di teladani. Lain halnya dengan kisah selanjutnya, seperti yang kita ketahui bersama dan masih hangat di perbincangan, yaitu G30S/PKI dimana para penganut paham komunis meraja-rela dan memakan korban jendral-jendral bangsa Indonesia yang menurut sejarah mereka di evakuasi dari ”lubang buaya”.
Meskipun banyak kader-kader berprestasi di Indonesia, namun cenderung yang tidak berprestasi yang menjadi mayoritas, dengan meninjau dari faktor ekonomi dan moral. Oleh karena itu, ukiran halus sejarah oleh mereka di saingi oleh torehan luka buruknya sejarah. Tawuran memang telah membudaya, sehingga sekilas kejadian ini seperti biasa saja. Akan tetapi, jika di lihat sepuluh tahun kedepan, maka peristiwa ini akan menjadi sebuah sejarah yang buruk bagi bangsa Indonesia. Lebih spesifik lagi, tawuran di Indonesia yang mendominasi adalah tentang tawuran antar suporter bola. Tidak di pungkiri lagi bahwa berita (kisah) menjadi bahan perbincangan khalayak. Tidak tanggung-tanggung juga, biasanya berita ini akan menjadi topik utama di media massa.
Berfokus pada pelaku sejarah, pertanyaannya bukan “bagaimana mereka melakukan itu” akan tetapi “mengapa mereka melakukan itu”. Kalau di tanya mengapa, maka kita merujuk ke “penyebab”. Pernahkah kita mendengar bahwa misi persepak-bolaan Indonesia kedepan adalah untuk bisa masuk dalam laga dunia yang lebih kita kenal dengan “world cup” atau piala dunia. Dalam sebuah artikel menuliskan bahwa secara tidak langsung kagiatan apa yang dilakukan oleh para suporter sangat besar pengaruhnya terhadap wajah persepak-bolaan. Hal ini juga salah satunya menjadi penyebab mengapa tawuran itu bisa terjadi. Bersembunyi di balik kata “mencari nafkah” ternyata banyak dan selalu terjadi ketika kesebelasan saling berhadapan, yakni “taruhan”. Salah satu penyebab mengapa tawuran itu terjadi. Hal ini pantas jika di istilahkan dengan, “menuai badai”. Berawal dari sebuah taruhan, hingga berujung tawuran. Selanjutnya, faktor “like and dislike” yang sederhananya “objektif”. Sering terjadi gerak-gerik yang mencurigakan jika permainan berlangsung. Lihat langsung saja ke wasit. Hal ini juga dapat menjawab mengapa tawuran itu dapat terjadi.
Terlalu membosankan memang memikirkan mengapa hal itu dapat terjadi. Seperti mencari seekor gajah di kebun binatang, yang sebenarnya mudah akan tetapi menjadi sulit jika ternyata mereka sendiri yang memindahkan sang gajah itu sendiri ketempat lain. Selain hal-hal di atas, sebagian juga karena hal yang sepeleh yang hanya di dasari oleh sikap fanatis yang akhirnya menjadi sebuah obsesi, yang selanjutnya akan menjurus ke posesi. Karena demi membela tim pujaannya, dia rela untuk tawuran. Namun pernahkah kita memikirkan mengapa titik penyelesaiannya seperti berada jauh sejauh memandang titik cakrawala. Haruskah persepak-bolaan Indonesia di tiadakan karena di khawatirikan akan selalu meminta korban ? menanggapi masalah sosial memang mudah, akan tetapi menangani masalah sosial bukanlah semudah membalikkan talapak tangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar