Senin, 09 Januari 2012

CERITA PENDEK


 Mohon maaf para pembaca yang budiman, sempat vakum 1 tahun -_-". ini ada cerita pendek yang bersambung. ku persembahkan kepada mereka yang malas untuk membeli buku.

10 Tahun Lalu
Dibalik hiruk-pikuk kota, akan selalu ada sisi lain kehidupan yang begitu keras. Rumor itu akan selalu hidup sepanang umur kota tersebut. Ini adalah Kota Baru, begitulah orang-orang menyebutnya. Mungkin karena sejarah atau bukan, entahlah.
Layaknya kota lain dinegara ini, pilar-pilar megah terlihat menancap kokoh diatas lantai-lantai berkilau bak berlian. Jaringan jalan terhampar dan tekesan ruwet seperti nadi yang menuju jantung, dan aktifitas manusia adalah sel darahnya. Hanya itukah ? jawabannya tidak. Mereka hanya tidak tahu sisi gelapnya kota ini.
Tepat disudut kota ini, terdapat satu pemukiman kumuh tempat orang-orang yang kurang beruntung dan malas untuk memanfaatkan hidupnya. Daerah ini dinamakan Gang Sukamto, yang diambil dari nama presiden terdahulu. Tujuannya mungkin untuk mengenang jasa-jasanya atau apalah. Seorangpun di Gang Sukamto tidak akan pernah peduli.
Bersampingan dengan sungai yang sangat buruk kondisinya, menambah suramnya kehidupan dalam gang ini. Rumah-rumah semi-permanen dan non-permanen adalah satu-satunya harta berharga yang dimiliki oleh warga dalam gang ini meskipun selalu ada rasa was-was ketika para Satpol PP melintas. Mereka sering menggosipkan tentang penggusuran. Perampokan, pemerkosaan dan segala hal yang berbau “keuntungan” adalah pekerjaan sehari-hari penghuni gang ini. PASTI !, begitulah lelucon yang sering terdengar dari mereka atau korban mereka.
*******

Hari dimulai, selalu tidak ada bedanya untuk kota ini. Serasa mempunyai 32 jam sehari dan itu pun belum cukup. Sama seperti aktifitas serang ibu yang berada dalam sudut gang ini. Keluar dari rumah dengan menggunakan selendang untuk menahan dinginnya suhu diwaktu subuh. Matanya coklat penuh semangat untuk terus mengais rezeki. “untuk anakku” itulah alasannya. Rambutnya ikal sebahu terlihat disela-sela selendang yang dipakai. Tubuhnya sempurna untuk seorang perempuan pekerja keras. Dia sedang berjalan selangkah-demi selangkah menuju pasar dengan membawa sebuah keranjang besar penuh berisi makanan. Pasar untuk para “penjahat” ini tentunya. Itu memang kesibukannya sehari-hari.
“Anda sehat Ma ?”. tanya sebuah suara
“Mama Baik-baik saja Nak, terima kasih”. Jawabnya sambil lalu. Kondisinya memang terlihat kurang sehat, setidaknya menurut anak ini.
“Tapi anda terlihat sakit Ma”. tanya Eri sambil mengikuti dari belakang. Begitulah anak ini sering dipanggil. Dia adalah anak jalanan yang hidup dengan memohon belas kasih orang-orang yang lewat, dulunya sebelum dia dipertemukan dengan ibu ini. Hidupnya berubah, setidaknya dia tidak perlu lagi mengulang cerita “saya tida punya orang tua, mereka sudah pergi meninggalkan saya”.
“Tidak apa-apa nak Eri, Mama baik-baik saja”. Jawabnya. Memang dialog seperti ini sudah sering terjadi dan Eri sudah sangat memahami Ibu ini. Karena hanya dialah yang menjadi topangan hidup. Bukan ada satu lagi, Marshal. Marshal adalah anak kandung dari ibu ini, Ibu Artika biasa dipanggil.
“Semoga saja Mama tidak apa-apa, tapi izinkan saya membantu lagi untuk hari ini ya Ma”. Wajahnya berseri-seri
“Ya bisa, nanti siang kita makan bersama”. Jawab Si Ibu.
“Al mana Ma ?”. Tanya Eri
“Masih dirumah, katanya dia akan menyusul nanti”. Jawabnya
Mereka berdua berlalu dalam subuh yang dingin namun tetap dengan kebisingan, kekumuhan dunia Gang Sukamto.

CERITA PENDEK


Marshal
Ini adalah buku kedua dari tujuh buku yang ada yang bercerita tenang dunia yang sempurna. Ya dunia yang sangat sempurna, atau nisa disebut "surga". Berawal ketika Lucy, salah satu dari empat bersaudara memmasuki lemari dengan niat untuk bersembunyi dari saudara-saudara yang lainnya. Namun malah kedunia yang sama sekali baru untuknya. Dunia yang penuh dengan salju sdhingga disetiap sudut mata memandang hanya ada butran putih salju. Selanjutnya dia menceritakan kepada semua saudaranya, dan petualangan keempat saudara dimulai dengan masuki lemari yang ternyata adalah pintu untuk pergi kedunia lain yang dinamai NARNIA.
Konflik yang terjadi adalah ketika salah satu saudara mereka, Edmund, yang dulunya pernah pergi mengikuti Lucy namun bertemu dengan penyihir putih dan mendapatkan sebuah doktrin jahat, dan makanan yang dia sebut Turkish Delight.
Hoammzzz... dan penyihir putih mulai mengejar mereka bertiga yang sedang dalam perjalanan menuju ke kediaman Aslan sang raja Rimba. Hal ini terjadi karena penghianatan buta Edmund yang tergila-gila dengan Turkish Delight, roti sihir yang sangat enak. Dengan sekejap, penyihir putih langsung bergerak menuju tempat yang telah dilaporkan Edmund.
*******
Rasa kantuk mulai merayap naik dari mulut ke kepalaku, melewati mata yang seharusnya bisa melihat semuanya. Ya melihat indahnya dunia yang telah diciptakan oleh yang kuasa. Entah sudah jam berapa, hati ingin tetap membaca namun raga sudah mencapai batas.
Keluar dari tempat pribadiku, ruang pribadi untuk membaca semua yang ingin Aku baca. Tempat sehari-harinya Aku datangi setelah membantu mama berdagang. Sekarang Aku sedang berjalan menuju gubuk kebanggaan kita bertiga, Aku, Mama, dan Eri yang sudah terlihat di depan mataku. Sungguh dinginnya malam ini, dan selalu, terasa sangat menusuk ragaku.
Sesampainya Aku melihat mama sedang berada didepan tungku memasak makanan yang nantinya akan dijual dipasar seperti biasanya.
“Mama jangan lupa istirahat”. Aku menyapa sambil duduk disampingnya. Dia terlihat, hampir setiap hari, kurang sehat. Tapi dia selalu bilang bahwa dia tidak apa-apa. Itu adalah kebohongan seorang ibu. Semua anak pasti tahu itu. Aku mendekat dan menyandarkan kepalaku dibahunya, Aku selalu teringat semangatnya untuk bertahan dalam menghidupi Aku dan Eri.
“Kamu dari mana Al ? jangan bilang kamu mencuri lagi. Mama kan selalu peringatkan kamu kalau perbuatan itu tercela. Memang Mama tidak bisa membelikan kamu, tapi kamu sabarlah sedikit”. Dia menjelaskan dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, mungkin, dia terlihat lelah.
“Nggak lah ma, hari ini belum. Lagi pula yang Aku ambil adalah barang-barang rongsokan. Mereka nggak bakalan mencari itu barang. Htung-hitung mereka mendermakan sedikit saja harta mereka”. Jawabku tidak mau kalah, memang Aku agak usil soal barang-barang tertentu, yang Aku mau pasti Aku akan berusaha untuk mendapatkan itu.
“Ya sudah, kamu tidur sana besok ada aktivitas kan ?”. Lanjutnya.
“Mama juga, Al selalu sayang mama. Mama harus percaya bahwa suatu hari kita pasti akan mendapat sebuah perubahan”. Sambil memeluknya, Aku beranjak untuk tidur.
Sesampai dikamar, ya ini adalah kamar. Kamar yang sejak dulu kami tempati, sejak aku kecil dulu. Tidak ada yang istimewa, hanya saja kamar ini adalah harta yang sangat berharga. Disana Aku melihat Eri sudah terlelap. Mungkin sudah bermimpi indah, dan nyatanya Aku memang usil.
"Hoi Eri, sampai kapan mau tidur ?". Sambil menggelitiki Aku membangunkannya. Memang dari dulu Aku selalu menggelitiki kalau sedang membangunkannya. Intinya, Aku mau tidur ditempatnya.
"Hoamzz... ini jam berapa sih ? Eh ! apaan sih !". Dia bangun, dan langsung menjauh dariku. Seperti Aku terlihat menjijikan.
"Oi bangun oi, sepertinya kamu di cari mama tuh !" Lanjutku.
Sambil menggumam tidak jelas dia berjalan keluar menuju dapur. Aku melihat sekilas sebelum berbaring, dia merapikan rambutnya yang hitam sedikit panjang melewati bahunya. Menurutku, rambutnya terlihat sangat cocok dengan wajahnya yang cantik. Dia juga punya lesung pipit yang menjadi daya tariknya. Biasanya dia menjadi bahan godaan anak-anak sekitar ketika dia membantu mama berdagang dipasar, dan Aku sangat memaklumi itu. Biasanya dia berkata “maaf Aku gak tertarik dengan kalian”. Tapi yang membuat Aku tidak percaya diri adalah dia agak lebih tinggi beberapa senti dariku, hanya beberapa senti tidak lebih.
Sekarang dia dan Aku harusnya sudah kelas 3 SMA jika bersekolah. Ya, kita berdua hanyalah anak jalanan yang sama sekali tidak akan pernah menyentuh bangku pendidikan. Bertahan hidup saja sudah sangat berat untuk orang-orang seperti kami. Tapi tetap saja Aku tidak putus asa dengan itu, Aku selalu menjanjikan untuk berubah kepada diriku sendiri. Semua hanya untuk Mama dan Eri yang Aku punya di dunia ini.
Tikar lusuh memang terasa sangat nyaman jika dalam kondisi yang sudah sangat mengantuk. Aku merebahan tubuhku dan mulai untuk tidur. Besok adalah hari untuk berjuang.

CERITA PENDEK


EIRIKA
Terlihat sepasang manusia tampak belakang sedang berjalan di ikuti oleh Erika kecil. “Mereka adalah suami istri” sehingga dengan refleks dia berteriak “Mama !, Papa !”. Akan tetapi tidak ada yang mendengar suara Eirika kecil, atau mungkin saja itu hanya dalam hati entahlah.
Dengan nafas yang kurang beraturan, tetap Eirika kecil memacu langkah kakinya untuk tetap rapat mengikuti mereka berdua. “Hanya ingin tahu wah mereka berdua” itulah tujuan saat ini Eirika kecil. Tanpa memedulikan keramaian kota, Eirika kecil terus berlari untuk mengejar mereka berdua.
Akhirnya mereka berdua terlihat sampai disebuah toko boneka, salah satu dari mereka berkata “sepertinya anak kita akan suka dengan boneka ini” kalima tini terdengar oleh Eirika kecil, dan terlintas dibenaknya bahwa itu adalah boneka yang sangat di idam-idamkannya.
Semakin lama Eirika semakin jauh dari mereka. Rasa lelah semakin menjalar dikaki Eirika kecil, namun ia tetap menerobos tidak perduli diantara kaki-kaki manusia yang sedang berlalu-lalang. “Tunggu !, Tunggu !” itulah kata-kata yang sudah sulit untuk diucapkan dalam kondisi berlari. Namun semakin lama mereka semakin menghilang dari pandangan tertutupi dengan manusia lainnya, dan akhirnya dia terjatuh dan tangannya terinjak tapi dia tidak perduli. Dia hanya ingin bangkit dan mengejar namun tidak ada lagi tenaga tersisa, dan mereka sudah menghilang dari pandangan. Hilang total. Itu hanyalah cita-citanya selama 9 tahun.
*******

"Hoi Eri, sampai kapan mau tidur ?" Samar-samar Aku mendengar suara.
"Hoamzz... ini jam berapa sih ? Eh ! apaan sih !" Aku menanggapi. Aku mengenali suara itu, Marshal atau biasa dipanggil Al.
"Oi bangun oi, sepertinya kamu di cari mama tuh !" Lanjutnya.
Aku bangun dan bergegas untuk pergi kedapur. Sambil berjalan Aku menata rapi kembali rambutku dan membatin, "mengapa mama memanggil malam-malam begini ?". Ya dia yang sekarang Aku panggil mama. Tidak pernah sekilaspun Aku melihat wajah Papa dan Mama kandungku. Aku yang mendapatkan diriku telah terlantar dijalanan, dan Aku tidak bisa membayangkan ketika kecil dulu siapa yang mengurusku hingga Aku bertemu dengan anak sebayaku, anak laki-laki yang sekarang Aku panggil Al.
Seingatku waktu itu Aku dalam kondisi demam yang tinggi, ditengah jalan pula. Aku tidak tahu lagi akan berbuat apa, dan Al langsung berteriak kepadaku lalu menolongku. Aku sangat berterima kasih kepadanya terlebih lagi atas apa yang sekarang Aku punya. KELUARGA.
Setelah sampai didapur, dapur tradisional yang beratapkan langit, tungkunya terbuat dari susunan batu bata, dan berbahan bakar kayu bekas, kardus-kardus, dan lain sebagainya yang setiap hari di cari oleh Marshal dan Aku. Mama sering berkata kepada kami berdua, "manfaatkanlah apa yang ada" dan memang dalam kondisi seperti ini, kata-kata itu perlu diperhitungkan.
Sesampai disana terlihat didepan tungku mama sedang memasak makanan untuk dijual nanti. Sambil mendekat Aku bersuara rendah membuka percakapan.
"Mama memanggil saya ?". Tanyaku masih dengan kantuk.
"Sepertinya tidak, tugasmu kan bukan sekarang. Sana istirahatlah yang cukup". Jawab Mama
"Iya Ma,". Balasku sambil berlalu
Aku bingung untuk sejenak, dan pikiranku langsung tertuju kepada Al. Sungguh brengsek dia. Hahaha dengan begitu polosnya Aku tertipu, Padahal ini sudah sering terjadi. Brengsek Kamu Al.
Setelah meminta izin, Aku kembali kekamar yang sebenarnya bisa dibilang ruang tamu juga ruang makan. Memang rumah yang hanya memiliki luas sebesar dua mobil Angkutan kota, beratap genteng yang sudah berumur, berdinding terpal yang banyak bekas tambalan, dan berlantai kardus beserta tikar bekas yang dilapis-lapis ini adalah harta yang sangat berharga bagi Mama, dan Ia sangat bersyukur untuk itu. Dia sering mengingatkan untuk tidak mencela apa yang mereka punya kepada kami.
"Sialan Kamu Al !". Teriakku marah sambil menendang kakinya yang sudah lelap tertidur.
Aku menuggu untuk beberapa menit, tapi tidak ada jawaban dari anak lelaki yang konyol dan senang berlari ini. Rambutnya sering berantakan, matanya seperti mama, coklat dan tajam kalau menatap. Tidak ada yang begitu spesial dari dia, menurutku. Tapi disaat-saat tertentu dia terlihat berbeda dari yang dikira. Perbedaannya seperti berlian yang belum digosok dan sesudah digosok.
Sudahlah, Aku merebahkan tubuhku untuk tidur. Istirahat yang Aku butuhkan. Kita biasanya tidur bertempelan punggung karena ini adalah cara terbaik untuk tetap memertahankan suhu tubuh dari dinginnya setiap malam di Gang ini. Hal ini juga yang diajarkan oleh Mama ketika masih kanak-kanak dulu, dan sampai sekarang. Mama selalu berkata "mendekatlah ke mama nak", dan kitapun tidur bertiga.
Malam yang selalu dingin di Gang "Suram" Sukamto, tanpa bintang dilangit. Tapi cahaya harapan akan selalu terpancar kepada orang-orang yang penuh dengan keinginan-keinginan dan bergerak untuk mencapainya. Tidak terbatas untuk anak jalanan sepertiku, eh itu dulu sekarang aku punya keluarga dan Aku mulai menutup mataku.