Mohon maaf para pembaca yang budiman, sempat vakum 1 tahun
-_-". ini ada cerita pendek yang bersambung. ku persembahkan kepada mereka
yang malas untuk membeli buku.
10 Tahun Lalu
Dibalik hiruk-pikuk kota, akan selalu ada sisi lain
kehidupan yang begitu keras. Rumor itu akan selalu hidup sepanang umur kota
tersebut. Ini adalah Kota Baru, begitulah orang-orang menyebutnya. Mungkin
karena sejarah atau bukan, entahlah.
Layaknya kota lain dinegara ini, pilar-pilar megah
terlihat menancap kokoh diatas lantai-lantai berkilau bak berlian. Jaringan
jalan terhampar dan tekesan ruwet seperti nadi yang menuju jantung, dan
aktifitas manusia adalah sel darahnya. Hanya itukah ? jawabannya tidak. Mereka
hanya tidak tahu sisi gelapnya kota ini.
Tepat disudut kota ini, terdapat satu pemukiman kumuh
tempat orang-orang yang kurang beruntung dan malas untuk memanfaatkan hidupnya.
Daerah ini dinamakan Gang Sukamto, yang diambil dari nama presiden terdahulu.
Tujuannya mungkin untuk mengenang jasa-jasanya atau apalah. Seorangpun di Gang
Sukamto tidak akan pernah peduli.
Bersampingan dengan sungai yang sangat buruk
kondisinya, menambah suramnya kehidupan dalam gang ini. Rumah-rumah
semi-permanen dan non-permanen adalah satu-satunya harta berharga yang dimiliki
oleh warga dalam gang ini meskipun selalu ada rasa was-was ketika para Satpol
PP melintas. Mereka sering menggosipkan tentang penggusuran. Perampokan,
pemerkosaan dan segala hal yang berbau “keuntungan” adalah pekerjaan
sehari-hari penghuni gang ini. PASTI !, begitulah lelucon yang sering terdengar
dari mereka atau korban mereka.
*******
Hari dimulai, selalu tidak ada bedanya untuk kota ini.
Serasa mempunyai 32 jam sehari dan itu pun belum cukup. Sama seperti aktifitas
serang ibu yang berada dalam sudut gang ini. Keluar dari rumah dengan
menggunakan selendang untuk menahan dinginnya suhu diwaktu subuh. Matanya
coklat penuh semangat untuk terus mengais rezeki. “untuk anakku” itulah
alasannya. Rambutnya ikal sebahu terlihat disela-sela selendang yang dipakai.
Tubuhnya sempurna untuk seorang perempuan pekerja keras. Dia sedang berjalan
selangkah-demi selangkah menuju pasar dengan membawa sebuah keranjang besar
penuh berisi makanan. Pasar untuk para “penjahat” ini tentunya. Itu memang
kesibukannya sehari-hari.
“Anda sehat Ma ?”.
tanya sebuah suara
“Mama Baik-baik saja
Nak, terima kasih”. Jawabnya sambil lalu. Kondisinya memang terlihat kurang
sehat, setidaknya menurut anak ini.
“Tapi anda terlihat
sakit Ma”. tanya Eri sambil mengikuti dari belakang. Begitulah anak ini sering
dipanggil. Dia adalah anak jalanan yang hidup dengan memohon belas kasih
orang-orang yang lewat, dulunya sebelum dia dipertemukan dengan ibu ini.
Hidupnya berubah, setidaknya dia tidak perlu lagi mengulang cerita “saya tida
punya orang tua, mereka sudah pergi meninggalkan saya”.
“Tidak apa-apa nak Eri,
Mama baik-baik saja”. Jawabnya. Memang dialog seperti ini sudah sering terjadi
dan Eri sudah sangat memahami Ibu ini. Karena hanya dialah yang menjadi
topangan hidup. Bukan ada satu lagi, Marshal. Marshal adalah anak kandung dari
ibu ini, Ibu Artika biasa dipanggil.
“Semoga saja Mama tidak
apa-apa, tapi izinkan saya membantu lagi untuk hari ini ya Ma”. Wajahnya
berseri-seri
“Ya bisa, nanti siang
kita makan bersama”. Jawab Si Ibu.
“Al mana Ma ?”. Tanya
Eri
“Masih dirumah, katanya
dia akan menyusul nanti”. Jawabnya
Mereka berdua berlalu dalam subuh yang dingin namun
tetap dengan kebisingan, kekumuhan dunia Gang Sukamto.