Senin, 09 Januari 2012

CERITA PENDEK


Marshal
Ini adalah buku kedua dari tujuh buku yang ada yang bercerita tenang dunia yang sempurna. Ya dunia yang sangat sempurna, atau nisa disebut "surga". Berawal ketika Lucy, salah satu dari empat bersaudara memmasuki lemari dengan niat untuk bersembunyi dari saudara-saudara yang lainnya. Namun malah kedunia yang sama sekali baru untuknya. Dunia yang penuh dengan salju sdhingga disetiap sudut mata memandang hanya ada butran putih salju. Selanjutnya dia menceritakan kepada semua saudaranya, dan petualangan keempat saudara dimulai dengan masuki lemari yang ternyata adalah pintu untuk pergi kedunia lain yang dinamai NARNIA.
Konflik yang terjadi adalah ketika salah satu saudara mereka, Edmund, yang dulunya pernah pergi mengikuti Lucy namun bertemu dengan penyihir putih dan mendapatkan sebuah doktrin jahat, dan makanan yang dia sebut Turkish Delight.
Hoammzzz... dan penyihir putih mulai mengejar mereka bertiga yang sedang dalam perjalanan menuju ke kediaman Aslan sang raja Rimba. Hal ini terjadi karena penghianatan buta Edmund yang tergila-gila dengan Turkish Delight, roti sihir yang sangat enak. Dengan sekejap, penyihir putih langsung bergerak menuju tempat yang telah dilaporkan Edmund.
*******
Rasa kantuk mulai merayap naik dari mulut ke kepalaku, melewati mata yang seharusnya bisa melihat semuanya. Ya melihat indahnya dunia yang telah diciptakan oleh yang kuasa. Entah sudah jam berapa, hati ingin tetap membaca namun raga sudah mencapai batas.
Keluar dari tempat pribadiku, ruang pribadi untuk membaca semua yang ingin Aku baca. Tempat sehari-harinya Aku datangi setelah membantu mama berdagang. Sekarang Aku sedang berjalan menuju gubuk kebanggaan kita bertiga, Aku, Mama, dan Eri yang sudah terlihat di depan mataku. Sungguh dinginnya malam ini, dan selalu, terasa sangat menusuk ragaku.
Sesampainya Aku melihat mama sedang berada didepan tungku memasak makanan yang nantinya akan dijual dipasar seperti biasanya.
“Mama jangan lupa istirahat”. Aku menyapa sambil duduk disampingnya. Dia terlihat, hampir setiap hari, kurang sehat. Tapi dia selalu bilang bahwa dia tidak apa-apa. Itu adalah kebohongan seorang ibu. Semua anak pasti tahu itu. Aku mendekat dan menyandarkan kepalaku dibahunya, Aku selalu teringat semangatnya untuk bertahan dalam menghidupi Aku dan Eri.
“Kamu dari mana Al ? jangan bilang kamu mencuri lagi. Mama kan selalu peringatkan kamu kalau perbuatan itu tercela. Memang Mama tidak bisa membelikan kamu, tapi kamu sabarlah sedikit”. Dia menjelaskan dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, mungkin, dia terlihat lelah.
“Nggak lah ma, hari ini belum. Lagi pula yang Aku ambil adalah barang-barang rongsokan. Mereka nggak bakalan mencari itu barang. Htung-hitung mereka mendermakan sedikit saja harta mereka”. Jawabku tidak mau kalah, memang Aku agak usil soal barang-barang tertentu, yang Aku mau pasti Aku akan berusaha untuk mendapatkan itu.
“Ya sudah, kamu tidur sana besok ada aktivitas kan ?”. Lanjutnya.
“Mama juga, Al selalu sayang mama. Mama harus percaya bahwa suatu hari kita pasti akan mendapat sebuah perubahan”. Sambil memeluknya, Aku beranjak untuk tidur.
Sesampai dikamar, ya ini adalah kamar. Kamar yang sejak dulu kami tempati, sejak aku kecil dulu. Tidak ada yang istimewa, hanya saja kamar ini adalah harta yang sangat berharga. Disana Aku melihat Eri sudah terlelap. Mungkin sudah bermimpi indah, dan nyatanya Aku memang usil.
"Hoi Eri, sampai kapan mau tidur ?". Sambil menggelitiki Aku membangunkannya. Memang dari dulu Aku selalu menggelitiki kalau sedang membangunkannya. Intinya, Aku mau tidur ditempatnya.
"Hoamzz... ini jam berapa sih ? Eh ! apaan sih !". Dia bangun, dan langsung menjauh dariku. Seperti Aku terlihat menjijikan.
"Oi bangun oi, sepertinya kamu di cari mama tuh !" Lanjutku.
Sambil menggumam tidak jelas dia berjalan keluar menuju dapur. Aku melihat sekilas sebelum berbaring, dia merapikan rambutnya yang hitam sedikit panjang melewati bahunya. Menurutku, rambutnya terlihat sangat cocok dengan wajahnya yang cantik. Dia juga punya lesung pipit yang menjadi daya tariknya. Biasanya dia menjadi bahan godaan anak-anak sekitar ketika dia membantu mama berdagang dipasar, dan Aku sangat memaklumi itu. Biasanya dia berkata “maaf Aku gak tertarik dengan kalian”. Tapi yang membuat Aku tidak percaya diri adalah dia agak lebih tinggi beberapa senti dariku, hanya beberapa senti tidak lebih.
Sekarang dia dan Aku harusnya sudah kelas 3 SMA jika bersekolah. Ya, kita berdua hanyalah anak jalanan yang sama sekali tidak akan pernah menyentuh bangku pendidikan. Bertahan hidup saja sudah sangat berat untuk orang-orang seperti kami. Tapi tetap saja Aku tidak putus asa dengan itu, Aku selalu menjanjikan untuk berubah kepada diriku sendiri. Semua hanya untuk Mama dan Eri yang Aku punya di dunia ini.
Tikar lusuh memang terasa sangat nyaman jika dalam kondisi yang sudah sangat mengantuk. Aku merebahan tubuhku dan mulai untuk tidur. Besok adalah hari untuk berjuang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar