Marshal
Ini adalah buku kedua dari tujuh buku yang ada yang
bercerita tenang dunia yang sempurna. Ya dunia yang sangat sempurna, atau nisa
disebut "surga". Berawal ketika Lucy, salah satu dari empat
bersaudara memmasuki lemari dengan niat untuk bersembunyi dari saudara-saudara
yang lainnya. Namun malah kedunia yang sama sekali baru untuknya. Dunia yang
penuh dengan salju sdhingga disetiap sudut mata memandang hanya ada butran
putih salju. Selanjutnya dia menceritakan kepada semua saudaranya, dan
petualangan keempat saudara dimulai dengan masuki lemari yang ternyata adalah
pintu untuk pergi kedunia lain yang dinamai NARNIA.
Konflik yang terjadi adalah ketika salah satu saudara
mereka, Edmund, yang dulunya pernah pergi mengikuti Lucy namun bertemu dengan
penyihir putih dan mendapatkan sebuah doktrin jahat, dan makanan yang dia sebut
Turkish Delight.
Hoammzzz... dan penyihir putih mulai
mengejar mereka bertiga yang sedang dalam perjalanan menuju ke kediaman Aslan
sang raja Rimba. Hal ini terjadi karena penghianatan buta Edmund yang
tergila-gila dengan Turkish Delight,
roti sihir yang sangat enak. Dengan sekejap, penyihir putih langsung bergerak
menuju tempat yang telah dilaporkan Edmund.
*******
Rasa kantuk mulai merayap naik dari mulut ke kepalaku,
melewati mata yang seharusnya bisa melihat semuanya. Ya melihat indahnya dunia
yang telah diciptakan oleh yang kuasa. Entah sudah jam berapa, hati ingin tetap
membaca namun raga sudah mencapai batas.
Keluar dari tempat pribadiku, ruang pribadi untuk
membaca semua yang ingin Aku baca. Tempat sehari-harinya Aku datangi setelah
membantu mama berdagang. Sekarang Aku sedang berjalan menuju gubuk kebanggaan
kita bertiga, Aku, Mama, dan Eri yang sudah terlihat di depan mataku. Sungguh
dinginnya malam ini, dan selalu, terasa sangat menusuk ragaku.
Sesampainya Aku melihat mama sedang berada didepan
tungku memasak makanan yang nantinya akan dijual dipasar seperti biasanya.
“Mama jangan lupa
istirahat”. Aku menyapa sambil duduk disampingnya. Dia terlihat, hampir setiap
hari, kurang sehat. Tapi dia selalu bilang bahwa dia tidak apa-apa. Itu adalah
kebohongan seorang ibu. Semua anak pasti tahu itu. Aku mendekat dan
menyandarkan kepalaku dibahunya, Aku selalu teringat semangatnya untuk bertahan
dalam menghidupi Aku dan Eri.
“Kamu dari mana Al ?
jangan bilang kamu mencuri lagi. Mama kan selalu peringatkan kamu kalau
perbuatan itu tercela. Memang Mama tidak bisa membelikan kamu, tapi kamu
sabarlah sedikit”. Dia menjelaskan dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki,
mungkin, dia terlihat lelah.
“Nggak lah ma, hari ini
belum. Lagi pula yang Aku ambil adalah barang-barang rongsokan. Mereka nggak
bakalan mencari itu barang. Htung-hitung mereka mendermakan sedikit saja harta
mereka”. Jawabku tidak mau kalah, memang Aku agak usil soal barang-barang
tertentu, yang Aku mau pasti Aku akan berusaha untuk mendapatkan itu.
“Ya sudah, kamu tidur
sana besok ada aktivitas kan ?”. Lanjutnya.
“Mama juga, Al selalu
sayang mama. Mama harus percaya bahwa suatu hari kita pasti akan mendapat
sebuah perubahan”. Sambil memeluknya, Aku beranjak untuk tidur.
Sesampai dikamar, ya ini adalah kamar. Kamar yang
sejak dulu kami tempati, sejak aku kecil dulu. Tidak ada yang istimewa, hanya
saja kamar ini adalah harta yang sangat berharga. Disana Aku melihat Eri sudah
terlelap. Mungkin sudah bermimpi indah, dan nyatanya Aku memang usil.
"Hoi Eri, sampai
kapan mau tidur ?". Sambil menggelitiki Aku membangunkannya. Memang dari
dulu Aku selalu menggelitiki kalau sedang membangunkannya. Intinya, Aku mau
tidur ditempatnya.
"Hoamzz... ini jam
berapa sih ? Eh ! apaan sih !". Dia bangun, dan langsung menjauh dariku.
Seperti Aku terlihat menjijikan.
"Oi bangun oi,
sepertinya kamu di cari mama tuh !" Lanjutku.
Sambil menggumam tidak
jelas dia berjalan keluar menuju dapur. Aku melihat sekilas sebelum berbaring,
dia merapikan rambutnya yang hitam sedikit panjang melewati bahunya. Menurutku,
rambutnya terlihat sangat cocok dengan wajahnya yang cantik. Dia juga punya
lesung pipit yang menjadi daya tariknya. Biasanya dia menjadi bahan godaan
anak-anak sekitar ketika dia membantu mama berdagang dipasar, dan Aku sangat
memaklumi itu. Biasanya dia berkata “maaf Aku gak tertarik dengan kalian”. Tapi
yang membuat Aku tidak percaya diri adalah dia agak lebih tinggi beberapa senti
dariku, hanya beberapa senti tidak lebih.
Sekarang dia dan Aku
harusnya sudah kelas 3 SMA jika bersekolah. Ya, kita berdua hanyalah anak
jalanan yang sama sekali tidak akan pernah menyentuh bangku pendidikan.
Bertahan hidup saja sudah sangat berat untuk orang-orang seperti kami. Tapi
tetap saja Aku tidak putus asa dengan itu, Aku selalu menjanjikan untuk berubah
kepada diriku sendiri. Semua hanya untuk Mama dan Eri yang Aku punya di dunia
ini.
Tikar lusuh memang terasa
sangat nyaman jika dalam kondisi yang sudah sangat mengantuk. Aku merebahan
tubuhku dan mulai untuk tidur. Besok adalah hari untuk berjuang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar